Ras Manusia (Bhineka Tunggal Ika)

Oleh: Ninin

Slogan nasional kita di atas mungkin terdengar klise bagi orang jaman sekarang. Tetapi, kedalaman slogan ini sungguh terasa kebenarannya apabila kita melihat keragaman yang ada di tanah air Indonesia. Beragam budaya dan bahasa daerah dapat ditemui oleh karena beragamnya suku-suku bangsa. Jika kita melihat penduduk dunia, secara kasat mata akan kita lihat banyak terdapat perbedaan fisik manusia. Dalam Antropologi, manusia digolongkan dalam kelompok-kelompok yang disebut ras, misalnya ras kaukasoid, mongoloid, negroid, dan australoid berdasarkan perbedaan fisik yang terlihat1. Istilah ras juga digunakan dalam Biologi. Ras adalah sebutan bagi variasi-variasi yang terdapat di tingkat subspesies hewan (di bawah spesies) sedangkan untuk tumbuhan digunakan istilah varietas. Karena antropologi mengacu pada pengelompokan organisme secara biologis (dan menurut antropologi, manusia adalah hewan tingkat tinggi), maka kelompok-kelompok manusia pun disebut ras. Saat manusia menggolongkan sesamanya dalam ras yang berbeda-beda, yang umum menjadi patokan adalah perbedaan ciri-ciri fisik (anatomis), juga keturunan, budaya, bahasa, bangsa, etnis, dan geografis1. Patokan yang berbeda akan menghasilkan penggolongan ‘ras’ yang berbeda pula. Misal, pengelompokan manusia berdasar warna kulit akan berbeda dengan pengelompokan berdasarkan bahasa atau bangsa atau geografis. Jadi, apakah ‘ras’ manusia itu nyata?

Ras dan Biologi Genetika

Bagaimana dengan biologi dan genetika? Seberapa nyatakah ‘ras’ dilihat dari sudut pandang bidang ini?

Sekitar tahun 1998, dimulailah Human Genome Project (HGP) untuk ‘membaca’ keseluruhan DNA manusia. DNA adalah rangkaian informasi lengkap yang menginstruksikan bagaimana dan seperti apa seorang manusia terbentuk; warna mata dan kulitnya, rambut keriting atau lurus, buta warna atau sehat, tinggi atau pendek, dan sebagainya. DNA setiap orang itu unik, kecuali pada kembar identik. Keberadaan fisik dan fungsional manusia ditentukan oleh keunikan DNA-nya dan juga pengaruh dari lingkungan. Sehingga, dipastikan terdapat variasi pada DNA (variasi genetik) manusia yang satu dari yang lain. HGP yang selesai beberapa tahun yang lalu mengungkapkan fakta sebagai berikut.

  • Panjang DNA manusia adalah 3 x 109 pasang basa (satu pasang basa analog dengan satu titik atau garis pada kode morse)3,4
  • DNA mengandung +000 gen, dengan rata-rata frekuensi yaitu satu gen tiap 100.000 pasang basa3,4
  • Variasi genetik yang terdapat antar dua orang yang dipilih secara acak (tidak dibedakan rasnya) adalah 0,2%5. Ini berarti 99,8% informasi DNA manusia adalah identik.
  • Perbedaan variasi genetik antar kelompok-kelompok ras adalah 5-6%2,5 dari 0,2% variasi genetik yang ditemukan di DNA manusia. Ini berarti terdapat 95% variasi di dalam kelompok ras itu sendiri2.

Apa yang dapat dikatakan ilmuwan tentang fakta ini?

Ternyata, perbedaan genetik orang-orang yang termasuk dalam ‘ras’ yang sama justru jauh lebih besar daripada orang dengan ‘ras’ yang berbeda. Variasi genetik antar ras dikatakan sangat kecil hingga dapat diabaikan! Faktanya, seringkali pasien yang membutuhkan transplantasi organ akan menemukan donor yang cocok dari ras yang lain5

Gambar 1. Perbedaan jumlah lemak di lipatan mata mempengaruhi bentuk mata.

Orang mungkin bisa salah mengerti tentang variasi genetik yang dimaksudkan di sini. Adanya perbedaan di antara dua orang tertentu tidaklah berarti bahwa mereka mempunyai gen-gen, karakteristik, dan ciri bawaan (trait) yang berbeda. Akan tetapi, mereka menunjukkan variasi dari gen-gen, karakteristik, dan ciri bawaan yang sama tersebut. Setiap manusia memiliki gen yang sama untuk warna mata tetapi salah satu gen mengkode mata biru dan lainnya hitam. Mata sipit orang Cina dikode oleh gen yang sama yang membentuk mata orang Eropa yang dalam. Bedanya hanyalah pada kandungan lemak yang sedikit berlebih pada lipatan mata orang Cina5. Gen pembentuk mata dapat diibaratkan minuman soda “Fanta” dan variasinya yaitu warna mata adalah bermacam-macam rasa yang ada seperti jeruk, stroberi, anggur, dan lain-lain. Juga, tidak pernah ditemukan adanya gen khusus yang mengkode ‘ras’ manusia.

 

Gambar 2. Kembar menakjubkan dari Inggris. Inilah bukti bahwa warna kulit yang diturunkan bisa sangat berbeda dalam waktu yang singkat.

Joseph L. Graves Jr., seorang ahli biologi evolusioner di Arizona State University West di Phoenix yang juga penulis buku ‘The emperor’s new clothes: Biological Theories of Race at the Millenium’, mengatakan bahwa faktor pembeda yang sangat gamblang yaitu warna kulit pun dapat sangat bervariasi di dalam ‘ras’ yang sama. Ambillah contoh ras negro; negro Afrika dengan negro Oseanik dimasukkan dalam ras yang sama, tetapi genetika menyatakan sebaliknya. Juga, kulit gelap orang Afrika Sahara tidaklah sama dengan kulit gelap India kaukasoid. Contoh lainnya, seseorang (di Amerika) dikatakan dari ras kulit hitam walau hanya satu saja dari orang tuanya berkulit hitam, juga bahkan jika satu saja kakeknya yang berkulit hitam. Dari sudut pandang genetika, logika semacam ini tidak dapat didukung6.

 

Dipandang dari sudut kekerabatan yang ditentukan secara genetik, orang Eropa lebih dekat kekerabatannya dengan orang Cina daripada dengan orang Afrika apabila ditinjau warna kulitnya. Akan tetapi, jika dilihat distribusi golongan darah sistem ABO, maka orang Eropa akan lebih dekat dengan orang Afrika daripada dengan orang Cina. Jadi, warna kulit benar-benar tidak dapat dipakai sebagai ukuran dalam penggolongan manusia di dunia, demikian pula dengan jenis rambut, warna mata, besar badan, kepandaian, dan sebagainya. Kebanyakan ilmuwan berpendapat bahwa ras adalah bentukan sosial dan bukan implikasi biologis yang nyata. Dengan kata lain, tatanan sosiallah yang menentukan definisi dan maksud suatu ‘ras’2.

 

 

 

 

Alkitab dan Ras5

Apakah yang dikatakan Alkitab sehubungan dengan ras manusia? Bagaimana Alkitab memandang keberbedaan manusia?

Alkitab tidak pernah menggunakan istilah ‘ras’ untuk menyebutkan orang tertentu. Tidak ada ras putih, hitam, asia, latin, dan yang lain. Alkitab menyebutkan bahwa kita semua adalah anggota dari satu ras manusia. Kisah Rasul 17: 26 (King James Version) menyatakan bahwa semua manusia adalah berasal dari ‘satu darah’, dengan kata lain semua manusia yang pernah ada di bumi berkerabat satu dengan yang lain oleh karena Adam, manusia pertama. Yesus Kristus pun adalah keturunan Adam (1 Kor 15:45). Kita semua manusia, tanpa terkecuali adalah satu spesies yang sama, satu keluarga besar! Oleh karena itu, Injil Yesus Kristus harus diberitakan ke seluruh umat manusia tanpa terkecuali. Setiap manusia keturunan Adam dapat diselamatkan karena ‘kerabat’ kita, Yesus Kristus, telah mati atas dosa dan bangkit kembali. Lebih jauh, Alkitab juga tidak membedakan karakteristik fisik, status, maupun latar belakang sosial manusia (Galatia 3:28, Kolose 3:11, Roma 10:12-13).

tidak pernah membedakan manusia berdasarkan hal-hal yang bersifat fisik seperti ras, tetapi mengenal pembedaan kondisi spiritual manusia, yaitu manusia yang percaya kepada Yesus Kristus, Tuhan, dan yang tidak. Penyebutan Alkitab untuk menggolongkan manusia umumnya (Kejadian 10:5, 20, 30-31) mengacu kepada kebangsaan (nation), suku bangsa (tribe), bahasa (tongue), atau pun nenek moyang (family). Penggolongan Alkitab ini merujuk pada asal-usul geografis dan antropologis suatu kelompok manusia; semacam catatan atas sejarah kehidupan manusia, dan tentunya, sebagai penyebut yang membedakan kelompok manusia yang satu dengan yang lain.

Yesus Kristus disebut orang Yahudi/Israel walaupun terdapat orang-orang seperti Rut dan Rahab yang ‘bukan Yahudi’ di silsilah yang menurunkannya (Matius 1). Dengan demikian, ‘ras’ Alkitab lebih tepat dikatakan sebagai ‘kelompok orang’ (people group).

 

Gambar 3. Catatan alkitab tentang munculnya bangsa-bangsa yang berbeda dari Adam dan Hawa.

Bagaimana bangsa-bangsa dengan warna kulit yang berbeda dapat muncul dari dua orang saja?

Ilmu genetika sangat mendukung keterangan Alkitab. Saat dilahirkan, wanita dan pria membawa ratusan ribu bahkan jutaan benih potensial untuk membentuk manusia baru, seperti juga Adam dan Hawa. Tentu saja, mereka tidak mempunyai anak sejumlah yang dapat dilahirkan, tetapi anak-anak mereka pasti berbeda satu dengan yang lainnya, kecuali jika kembar identik8. Adam dan Hawa diciptakan dengan kombinasi gen yang sempurna, misalnya warna kulit yang sempurna (sedang; tidak terlalu terang atau pun gelap) yang berpotensi menurunkan warna kulit dari semua gradasi terang ke gelap[1]. Warna kulit anak-anak Adam dan Hawa kemungkinan menunjukkan campuran gradasi tersebut, dengan warna kulit sedang tetap yang terbanyak. Perkawinan campur adalah yang paling mungkin terjadi waktu itu karena tidak ada halangan atau batasan apa pun antar manusia. Perkawinan ini akan menghasilkan keturunan berwarna kulit sedang terbanyak.

Beberapa masa sesudahnya, dunia dipenuhi dengan kejahatan sehingga Tuhan menghukum dan menghancurkan dunia dengan bencana besar; air bah (Kejadian 6). Hanya Nuh dan keluarganya yang selamat dari bencana tersebut, sehingga umat manusia yang ada sekarang pastilah berasal dari tiga anak dan tiga menantu Nuh. Anak-anak dan menantu-menantu Nuh pun kemungkinan besar berwarna kulit sedang, tidak ekstrim terang atau gelap. Ham bukanlah ‘negro’ dan Yafet bukanlah ‘bule’. Walau iklim dunia sudah sangat berubah setelah banjir, manusia masih diikat dalam satu kesatuan bahasa dan budaya sampai tragedi menara Babel terjadi (Kejadian 11). Bahasa yang berbeda memaksa manusia terserak ke seluruh penjuru dunia dari menara Babel dan membatasi interaksi antar manusia. Orang cenderung akan menikah dengan orang dari kelompok yang sama, yang dapat berinteraksi dengannya. Daerah yang berjauhan juga menjadi pembatas terjadinya perkawinan campur. Kondisi seperti ini menyebabkan terkonsentrasi dan terisolasinya variasi (alel) gen-gen tertentu pada kelompok orang tertentu. Kelompok yang membawa gen warna kulit hitam akan lebih banyak menghasilkan keturunan berkulit hitam. Kondisi lingkungan juga berperan menyeleksi keberadaan gen-gen tertentu. Misalnya, banyak-sedikitnya pigmen melanin menentukan warna kulit seseorang. Semakin banyak kandungan melanin seseorang, semakin gelap kulitnya[2]. Di daerah tropis, melanin dalam jumlah yang cukup dibutuhkan untuk menangkis efek merusak sinar matahari. Itulah sebabnya, orang berkulit gelap lebih mampu bertahan hidup di daerah ini. Sebaliknya, keturunan berkulit terang mudah terserang kanker kulit yang mematikan[3]. Dalam waktu yang relatif singkat, sifat kulit terang tidak lagi ditemukan dan diturunkan dalam kelompok orang tersebut.

Di daerah sub-tropis yang dingin dan intensitas sinar matahari yang terbatas, kandungan melanin yang lebih sedikitlah yang menguntungkan. Dengan sedikitnya melanin, kulit akan dapat menyerap sinar matahari sebanyak mungkin untuk pembentukan vitamin D bagi pertumbuhan dan kesehatan tulang. Dengan sendirinya, sifat kulit teranglah yang akan mendominasi daerah sub-tropis. Kelompok-kelompok inilah yang sering kita sebut sebagai ‘ras’ manusia.


a. Untuk informasi lebih detil mengenai genetika pewarisan warna kulit, baca referensi 5

b. Jadi, salah jika orang berpikir ada gen untuk warna kulit putih, kuning, hitam, dsb. Yang ada adalah gen yang menentukan banyak sedikitnya melanin yang terbentuk. Setiap orang memiliki gen yang mampu menghasilkan sejumlah tertentu melanin. Albino adalah kondisi tidak adanya pembentukan melanin.

c. Sudah sepatutnyalah kita bersyukur dengan apa pun warna kulit kita, karena Tuhan menciptakannya sesuai dengan kebutuhan kita untuk tetap hidup.

 

 

Ras dan Akibatnya

Apakah menjadi masalah jika kita percaya bahwa manusia terbagi dalam ras-ras tertentu?

Apakah konsekuensinya, baik langsung maupun tak langsung?

Dilihat dari sudut pandang kaum evolusionis, ras-ras manusia adalah hasil dari tingkat evolusi manusia yang berbeda. Pandangan ini dinampakkan secara ekstrim dengan pemikiran bahwa orang-orang Eropa, Indian, dan Afrika merupakan spesies manusia yang berbeda, dan orang-orang Afrika adalah yang paling tidak mirip manusia dan lebih dekat kekerabatannya dengan kera! Hal ini sangatlah bertentangan dengan Alkitab dan sangat merendahkan suatu kelompok manusia.

  1. Konsekuensi-konsekuensi yang sangat nyata dari pandangan tersebut ialah sebagai berikut.Penolakan terhadap Alkitab. Alkitab menyatakan manusia pertama diciptakan oleh Tuhan. Pandangan bahwa manusia berevolusi dari binatang dan bukan dari keturunan Adam dan Nuh mempertanyakan keabsahan catatan sejarah di Alkitab, yang berarti juga keabsahan keseluruhan isi Injil dan karya Yesus Kristus bagi manusia.
  2. Rasialisme. Rasialisme adalah prasangka terhadap kelompok orang atau ‘ras’ lain oleh karena alasan-alasan yang tidak berdasar (stereotipe). Prasangka tersebut biasanya didasarkan pada warna kulit, latar belakang budaya, aksen, dan penampilan9.
  3. Nasisme. Saat orang menganggap tingkat evolusi rasnya lebih maju dari yang lain maka yang terjadi adalah munculnya superioritas dan kesombongan. Mereka merasa diri paling hebat, paling kuat, dan paling pandai. Genosida yang berusaha dilakukan Hitler adalah contoh yang sangat jelas dan sangat mengerikan bagi dunia. Sebagai akibatnya, Jerman sekarang harus menanggung banyak kecurigaan dan prasangka dalam berhubungan dengan bangsa-bangsa lain.

    Gambar 4. Perkawinan nomor 3 adalah perkawinan yang dilarang oleh Alkitab  kuat, dan paling pandai.

  4. Ota Benga, the zoo man. Ota Benga adalah orang Afrika dari suku Pigmi (suku orang kecil/kerdil) yang dikurung dan dipertontonkan di sebuah kebun binatang pada awal abad 20! Dia dianggap sebagai contoh ras yang inferior secara evolusioner.
  5. Perbudakan. Pandangan rasisme dan interpretasi yang sembrono akan Alkitab adalah pemicu dilegalkannya perbudakan pada abad-abad yang silam. Lagi-lagi, kebanyakan orang Afrika dan juga orang aborigin Australia yang menjadi korban hal ini oleh anggapan evolusioner tentang kemanusiaan mereka.
  6. Sterilisasi massal dan pencurian anak. Di Amerika pernah terjadi sterilisasi massal pada puluhan ribu orang, sehingga mereka tidak akan pernah memiliki keturunan. Ratusan anak Aborigin di Australia sampai dengan tahun 1970-an diambil dengan paksa, dipisahkan dari orang tuanya, dan ditempatkan di rumah-rumah yatim-piatu. Semua praktek ini adalah hasil prasangka rasisme yang evolusioner.
  7. Perkawinan antar ras. Hal ini mungkin tidak terlalu disadari atau nampak sebagai satu efek dari pandangan rasisme evolusionis. Tetapi perkawinan antar ras (atau antar suku bangsa, etnis, bangsa) seringkali ditentang dengan alasan-alasan yang tidak mendasar. Jika diteliti lebih jauh, alasan-alasan tersebut seringkali akibat dari prasangka stereotipe rasisme. Yang menyedihkan, pandangan negatif perkawinan antar ras ini masih banyak dianut oleh mereka yang Kristen. Bagaimana pandangan Alkitab tentang hal ini? Jika Alkitab tidak pernah menyatakan adanya ras yang berbeda (Gal 3:28), maka secara singkat tidaklah ada perkawinan antar Akan tetapi, Alkitab menyatakan bahwa tidak seharusnya terdapat perkawinan antar orang yang tidak percaya dengan orang yang percaya (2 Kor 6:14). Gambar 3 mengilustrasikan poin ini. Bagaimana pun, perbedaan latar belakang budaya yang besar dapat menjadi sumber kesulitan dalam suatu perkawinan berbeda ‘ras’. Tetapi, perkawinan satu ‘ras’ juga tidak menjamin ketiadaan perbedaan. Jadi memang, selain keseimanan, kecocokan dan kemampuan mengatasi perbedaanlah yang hendaknya menjadi dasar dalam cara kita memandang perkawinan. Hal itulah titik beratnya, bukan pada ‘ras’.

 

Ras sebagai Kelompok Orang

Lalu, bagaimana sebaiknya kita menyebut kelompok-kelompok manusia yang berbeda?

Gambar 5. Menariknya keragaman.

Istilah ras sudah sangat melekat dan susah sekali untuk mengubah arti yang mengiringinya. Kelompok orang (people group) dapat digunakan sebagai ganti penyebut ‘ras’ atau juga suku bangsa. Pengelompokan berfungsi mengetahui asal-usul moyang suatu golongan, yaitu sejarahnya dan bukan rasnya. Tidaklah salah menempatkan label geografis untuk menyebut kelompok orang. Penyebutan benua asal dan daerah-daerah tertentu seperti Asia Tenggara, Eropa Barat, Afrika Timur sangatlah netral dan tidak mengandung agenda tertentu yang mendiskreditkan sekelompok orang, misalnya istilah negroid, mongoloid, dan kaukasoid7.

Isolasi genetik yang menimbulkan kelompok orang dan bangsa yang berbeda juga cenderung mempertahankan keberadaan penyakit-penyakit bawaan tertentu pada golongan tersebut. Anemia sikel sel (sickle-cell anemia) misalnya, dulu sering dianggap sebagai penyakit orang ‘negro’. Ternyata, penyakit ini tidaklah khusus menyerang orang berkulit hitam, tetapi juga orang Turki, Indian, Yunani, dll. Lebih jauh diketahui bahwa penyakit ini ternyata berperan dalam resistensi terhadap malaria. Jadi, anemia ini bukanlah menjadi penyakit penanda ‘ras’ kulit hitam tetapi penanda moyang kelompok orang tersebut, yaitu orang-orang yang dulunya berasal dari daerah dengan prevalensi malaria yang tinggi. Kanker prostat dan cystic fibrosis dulunya juga dicap sebagai penyakit ‘ras’ tertentu.

Kesimpulan

Profesor antropologi ternama, C. L. Brace, berilustrasi sebagai berikut7. Jika kita membandingkan orang Mesir dan orang Skandinavia, mereka pasti tampak sangat berbeda. Tetapi jika kita coba berjalan dari Mesir terus ke utara melewati Turki, Yunani, Rumania, Polandia, dan sampai Skandinavia sambil membandingkan orang-orang di daerah tersebut, kita akan melihat orang-orang dari satu negara ke negara yang lain nampak serupa. Itu karena mereka semua saling berkerabat. Yang lumrah di dunia yaitu pria menikahi gadis tetangga sebelah rumah, tetapi ‘sebelah rumah’ suatu daerah adalah daerah di dekatnya, dan ‘sebelah rumah’ daerah tersebut adalah daerah sebelahnya lagi, dan lagi…..

Satu ungkapan dalam bahasa inggris, ‘Beauty is only a skin deep’ agaknya tepat diterapkan dalam urusan ras, “Race is only a skin deep”. Seringkali, kulitlah yang menghalangi kita melihat manusia yang terletak di bawahnya. Bahwa kita semua diciptakan segambar dengan Allah, lalu memberontak dan kesegambaran itu rusak. Tetapi, bagi kita yang percaya kepada Yesus Kristus, Juruselamat dan Allah yang sejati, suatu saat nanti kita akan dikumpulkan bersama-sama kembali sebagai satu keluarga besar ras manusia yang Bhineka Tunggal Ika

 

Daftar Pustaka

  1. Keita, S.O.Y., Kittles, R.A., Royal, C.D.M., Bonney, G.E., Furbert-Harris, P., Dunston, G.M., dan Rotimi, C.N. Conceptualizing human variation. Nature Gen. Supp. 36, S17-S20 (2004).
  2. Spice, B. Genetics and race: Researchers explore why rates of diseases vary from one population to another. Post-Gazette.com, Health & Science (May, 2002).
  3. doegenomes.org 
  4. Turner, P.C., McLennan, A.G., Bates, A.D., and White, M.R.H. Instant Notes in Molecular Biology. 1997. Second edition. BIOS Scientific Publishers Ltd. UK.
  5. Ham, K., Wieland, C., Batten, D. Where did the ‘races’ come from? 1999. Fifth edition. answersingenesis.org. USA.
  6. Collins, F.S., What we do and don’t know about ‘race’, ‘ethnicity’, genetics and health at the dawn of the genome era. Nature Gen. 36, S13-15 (2004)
  7. Brace, C.L., Does race exist? An antagonist perspective. Nova online. 2002.
  8. Gish, D.T., The amazing story of creation: from science and the Bible. 1990. Institute of Creation Research. California.
  9. onehumanrace.com/Q&A articles