Pentingnya Keliteralan Kitab Kejadian dalam Penginjilan

Oleh: Prof. Dr. Ir. Indarto DEA

 

Yang dimaksud dengan literal di sini adalah suatu penekanan kebenaran, atau sesuatu yang nyata terjadi sebagaimana yang diceriterakan dalam suatu ceritera atau kisah, sehingga keliteralan Kitab Kejadian berarti suatu catatan yang didasarkan atas kebenaran nyata menyangkut sejarah yang terjadi dalam Kitab Kejadian.

Ken Ham, dalam bukunya Creation Evangelism for the New Millenium, menceriterakan diskusinya dengan seorang isteri Pendeta yang menyatakan bahwa kebenaran Kitab Kejadian tidak penting, karena yang terpenting bagi jemaat adalah bagaimana mereka mengerti bahwa Yesus mati untuk menebus orang  berdosa, dan bila mereka percaya pada Yesus akan diselamatkan.

Singkat ceritera, diskusi kemudian berlanjut dengan mempertanyakan asal dosa, yang menyebabkan Allah Bapa mengirimkan Anak-Nya yang Tunggal, untuk menebus dosa-dosa manusia. Dosa terjadi akibat pembrontakan manusia pertama di Taman Eden, di mana keautentikan sejarah tersebut hanya tertulis dalam Kitab Kejadian .

Bila keselamatan dan kedatangan Yesus adalah literal maka pemberontakan adalah literal, manusia pertama Adam harus literal, kejatuhan harus literal, pohon pengetahuan baik dan jahat harus literal. Sehingga bila ada pertanyaan pentingkah mempercayai kejatuhan secara literal? Jawaban terhadap pertanyaan ini adalah secara mutlak perlu. Karena bila kejatuhan tidak nyata, apakah makna dosa? Bila kejatuhan dan dosa tidak ada apakah makna karya Kristus?

Kesimpulannya adalah bila seseorang mengajarkan Injil tanpa mengajarkan Penciptaan, asal dosa dan kematian, berarti orang tersebut mengajarkan Injil tanpa dasar pengetahuan yang diperlukan untuk mengerti Injil secara menyeluruh.

Hal lain essensi keliteralan Kitab Kejadian adalah bila Kitab Kejadian tidak benar, maka tidak akan ada yang menjamin apa yang dikatakan Yesus—yang sering juga mengutip Kitab Kejadian—adalah benar.

Sebagai contoh riil dapat disimak kesaksian salah satu dosen etika, yang pernah menceriterakan bahwa ada salah seorang pendeta yang  pernah berkhotbah tentang Yesus yang menyatakan bahwa Alkitab yang menceriterakan tentang Yesus memberi makan kepada 5000 orang, bukanlah mujizat, tetapi karena orang-orang tersebut (yang kebanyakan orang Yahudi) membawa bekal roti sendiri-sendiri di kantong jubahnya. Tetapi karena nature Yahudi yang pelit, mereka tidak mengatakan hal tersebut kepada Yesus. Namun, mereka kemudian tersentuh  (atau malu) ketika seorang anak kecil merelakan memberi rotinya kepada Yesus, sehingga akhirnya mereka mengikuti langkah anak kecil ini untuk memberikan rotinya pada Yesus, yang akhirnya pemberian makan terhadap 5000 orang terselesaikan.

Ternyata pendeta yang diceriterakan oleh dosen etika tersebut adalah pendeta yang juga pernah menyatakan bahwa ia memiliki pendapat yang bertentangan dengan kebenaran penciptaan dalam suatu seminar tentang Penciptaan meski hal itu tidak diungkapkan langsung dalam forum.

Sikap ketidakpercayaan pendeta ini terhadap mujizat yang dilakukan Yesus sebenarnya merupakan konsekwensi logis dari ketidakpercayaannya terhadap kebenaran Penciptaan. Bila Kitab kejadian tidak benar, siapa yang menjamin seluruh perkataan Yesus benar? Siapa yang menjamin kebenaran Yesus lahir dari perawan, mati disalibkan dan kemudian bangkit?

Menyikapi mengalirnya pandangan-pandangan yang tidak memihak pada kebenaran Alkitab, yang menjadi  korban sebenarnya adalah jemaat dan umat Kristen. Iman jemaat dan seluruh umat akan menjadi rapuh dan terombang ambing, sehingga tidak mengherankan bila moral umat Kristen semakin merosot.

Tidak mengherankan bila gereja dan gembala sidang saat ini disibukkan dengan jemaat dimana banyak orang Kristen yang tidak jujur dalam profesi dan bisnis, perceraian, perselingkuhan, dan homoseks.  Salah satu faktor penyebab kemerosotan moral jemaat dan umat Kristen merupakan konsekwensi tidak langsung dari sikap kekristenan terhadap kebenaran Alkitab. Karena begitu masyarakat menerima teori evolusi tak ada ikatan etis dan moral yang harus diikuti karena evolusi tidak mengenal Pencipta. Hal ini sangat bertentangan dengan Allah Alkitab yang memegang teguh kekudusan dan membenci dosa.

Supaya penginjilan dan Alkitab memiliki makna, maka Kitab Kejadian harus literal. Karena Kitab Kejadian memang Kitab sejarah. Mengubah Kitab Kejadian berarti menghilangkan penginjilan dan Alkiitab.