HIDUP SEBAGAI SEORANG KRISTEN: REFLEKSI APOLOGETIS

Oleh: Rev. Ignatius Bagoes Seta[1]

(BTh, Dipl DivMiss, Dipl ThS, M.Ed (Adult Ed), M.Th, Certf in Perspectives)

 

Abstrak

Seorang Kristen adalah mereka yang mendapatkan karya Roh Kudus dalam hidup mereka: mengerjakan kelahiran baru dan membawa mereka masuk ke dalam sebuah proses pengudusan yang bersifat sekaligus tuntas (secara status) dan progresif (secara proses). Campur tangan Roh Kudus ini hanya bisa dilakukan di dalam Kristus. Oleh karena itu, kehidupan seorang Kristen adalah satu proses perjalanan yang tidak bisa dilepaskan dari karya dan anugerah Allah Trinitas. Cara kita menjalani kehidupan ini di dalam dan bersama dengan Allah merupakan bukti karya anugerah Allah dalam hidup kita. Hidup sebagai seorang Kristen di masa kini tidaklah mudah, namun penyertaan Allah merupakan anugerah yang masih berlaku dan bekerja di masa kini. Inilah esensi dari apologia (pertanggungan jawab) iman Kristen, yang perlu dipaparkan dan dibagikan bukan sebagai bentuk olah-pikir, tapi lebih kepada pembuktian Allah dan kebenarannya. Anugerah Allah yang nyata adalah Firman Allah, yang diberikan agar kita bisa menjadi taat kepada-Nya dan menjadi makin serupa dengan gambaran Anak-Nya.

 

Orang Kristen dan Kehidupan

“Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif.” (Efesus 5:15)[1]. Kata yang diterjemahkan sebagai saksama adalah akribos, bentuk adjektif dari kata akribes yang berarti tepat dan jitu.[2] Dari keterangan ini, kita dapat menarik kesimpulan bahwa 1) hidup merupakan bagian dari orang Kristen, 2) ada tuntutan supaya kita dapat dengan jitu dan tepat memperhatikan kehidupan ini, dan 3) agar kita tidak menjadi seperti orang bebal. Alkitab selalu memperhatikan kehidupan karena kehidupan ini merupakan tanda utama bahwa manusia ini adalah ciptaan Allah. Sebagaimana Allah kita adalah Allah yang hidup, maka kehidupan juga merupakan satu ciri yang dituntut untuk dilakukan dan dikerjakan oleh seorang Kristen. Orang Kristen dituntut untuk menjadi bijaksana, karena di dalam konsep etika dan iman orang Ibrani (menurut Perjanjian Lama), bijaksana merupakan cara dan gaya hidup seorang yang mengenal Allah.[3] Seorang yang berhikmat/bijaksana akan menjadi seorang yang terampil dalam kehidupan, tidak mudah digoyahkan oleh arus jaman, serta tidak serta merta menjadi seorang yang menghancurkan kehidupan. Semangat untuk mempertahankan dan menjaga kehidupan merupakan satu paradigma berpikir yang melandasi gaya berpikir seorang Kristen. Oleh karena itu, diperlukan satu pemahaman yang luas dan melingkupi berbagai jenjang-kehidupan di dunia ini. Pengenalan ini penting, karena, sebagaimana yang ditegaskan oleh John Dettoni, “With a proper understanding of life stages, we who teach, preach, parent, counsel or just befriend can communicate more effectively the truth of the Word of God.” / “Dengan pemahaman yang tepat mengenai jenjang kehidupan ini, maka kita yang mengajar, berkhotbah, mengasuh, membimbing atau hanya sekedar menjadi teman dari seseorang akan dapat mengkomunikasikan kebenaran Firman Allah dengan lebih tepat.”[4] Dalam Alkitab, kitab Amsal membedakan bahwa ada yang disebut sebagai jalan orang bodoh. Jalan ini dimulai dengan keluguan dari seorang yang diistilahkan sebagai tidak berpengalaman. Orang yang sedemikian mudah percaya kepada setiap perkataan (Amsal 14:15), mudah tertipu, dan seringkali hanya bersikap tolol. Di dalam kitab Amsal, orang yang sedemikian tidak mempunyai tanggung jawab (Amsal 1:32).

Oleh karena itu, sebagaimana seruan rasul Paulus dalam surat Efesus yang sudah dikutip di atas, setiap orang Kristen dipanggil untuk bertanggung jawab atas kehidupannya. Apa alasan di balik ini? Karena setiap kita akan dihakimi oleh Tuhan Hakim yang Adil ketika Hari Tuhan nanti datang (Roma 14:12, Ibrani 9:27). Kesadaran akan fakta penghakiman Allah inilah yang seharusnya membawa kita kepada satu kesadaran bahwa hidup kita ini ada di hadapan Allah (Coram Deo) sebagaimana yang dikumandangkan oleh Martin Luther.[5] Di dalam bahasa Perjanjian Lama, inilah disebut sebagai jalan orang bijaksana. Kata bijaksana di dalam Alkitab berbicara tentang “the way we think, the way we use our minds or intellects.”/“cara kita berpikir, cara kita menggunakan pikiran atau intelektualitas kita.”[6] Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa Allah sudah memberikan otak kepada kita, dan Dia memerintahkan kita untuk menggunakannya. Dalam Roma 12:2, rasul Paulus menggunakan argumen yang sama. Perubahan (pembaharuan) akal budi[7] akan berdampak langsung pada perubahan perilaku. Bijaksana berbicara tentang karakter dan pola hidup yang disesuaikan dan bersesuaian dengan Firman Allah. Pada orang bijak ada kehati-hatian dan penguasaan/pengendalian diri. Orang yang bijaksana akan memandang hidup sebagai sarana untuk menjadi semakin dekat dalam persekutuan pribadi dengan Allah, yang pada akhirnya akan membawa si bijak menjadi serupa dengan Kristus. Oleh karena itu, bijaksana tidak pernah dihasilkan dari dalam diri manusia. Iman dan kepercayaan tidak pernah dan tidak mungkin dihasilkan dari dalam diri manusia yang sudah tercemar oleh dosa dalam setiap bagiannya. Karya Roh Kuduslah di dalam hidup orang percaya yang akan terlihat dalam dua hal: bagaimana seseorang mendapatkan status ‘dibenarkan’ hanya oleh darah Kristus[8] dan bagaimana kehidupan seseorang itu diubah dari hari ke hari dalam suatu proses pengudusan yang bersifat progresif  (terus menerus maju)[9] menuju kepada keserupaan dengan Gambaran Kristus.[10] Dalam praktika hidup, ini akan terlihat nyata dalam pergumulan kita antara keinginan (kerinduan?) untuk terus menerus ingin menjadi serupa dengan Kristus dan berbuat baik dengan keinginan daging yang cenderung untuk menjauhkan diri dari Kristus. Berpikir dan bertindak adalah dua hal yang tidak terpisahkan: mereka saling mempengaruhi satu terhadap yang lain.[11]

 

Orang Kristen dan Kehidupan Masa Kini

Apa arti hidup di masa kini? John Stott menjelaskan bahwa yang dimaksudkan dengan konsep masa kini (contemporer) berarti bahwa kita “bergerak dengan waktu, tanpa perlu memusingkan diri kita dengan masa lalu atau masa depan.”[12] Dunia memahami bahwa pilihan-pilihan hidup kita dibangun atas apa yang kita percaya sebagai sesuatu yang nyata dan real, benar dan salah, baik dan indah. Pilihan-pilihan hidup kita dibangun atas dasar worldview yang kita miliki. Persoalannya, dunia hari ini merancang dirinya di atas pemahaman yang menolak hakikat keberadaan Allah sebagai sumber, inti dan pusat kebenaran[13] – dan pemahaman ini begitu menguasai pola pikir dunia modern hari ini. Dalam analisanya, Walsh dan Middleton menyimpulkan bahwa dalam dunia modern ini manusia sudah terbiasa dan terbentuk untuk berpikir dengan pola dualisme: yakni, hal yang sekuler dibedakan dari yang rohani.[14] Dengan pola pikir ini, akhirnya manusia cenderung untuk tidak mau memikirkan tentang Allah (apalagi melibatkan Allah!) dalam hidup mereka.

Gaya berpikir ini ternyata kemudian merambah masuk ke dalam keKristenan. Banyak orang-orang yang menyebut diri Kristen ternyata memilih untuk menerapkan pola pikir dualisme ini dalam hidup mereka. Ada perbedaan yang besar antara dunia sekuler dengan dunia rohani. Ada jarak yang tidak terseberangi antara dunia “duniawi” dengan dunia “surgawi,” dan menjadi seorang Kristen berarti “tidak lagi bersentuhan dengan hal-hal yang duniawi.” Apakah ini yang dimaksudkan oleh rasul Paulus dengan seruannya dalam Efesus 5:15 yang sudah kita baca dan kutip di awal artikel ini? Apakah itu jalan hidup orang bijaksana menurut Alkitab?

Pergumulan ini membawa kita kepada poin yang ketiga, yakni: “How then we should live?” / “Bagaimana seharusnya kita (sebagai seorang Kristen) hidup?” Pertanyaan ini dikumandangkan oleh Yehezkiel (Yehezkiel 33:10), dan kemudian dalam konteks Kristen diuraikan oleh Francis Schaeffer dalam bukunya[15] yang mencoba untuk membawa kita kepada satu pemikiran tentang hidup Kristiani yang tidak tercemar oleh dunia ini dengan semua pandangannya yang mengikat dan meremas kita. Dunia sudah begitu terpengaruh dengan budaya dan konsep berpikir materialisme[16] yang begitu kuat, dengan dukungan dorongan humanisme[17] yang begitu jauh dari Allah, serta diarahkan kepada satu gaya hidup yang bersifat hedonis.[18] Bagaimana kita, sebagai orang Kristen yang rindu untuk dapat menerapkan prinsip-prinsip kebenaran Alkitab, dapat menyatakan iman kita di tengah dunia?

 

Panggilan Seorang Kristen untuk Mempertanggungjawabkan Iman

Di sini kita berhubungan dengan panggilan untuk mempertanggungjawabkan iman kita. Alkitab memperkenalkan dua teks Alkitab yang mengutarakan tentang panggilan ini: Filipi 1:16 dan 1 Petrus 3:15. Dalam surat Filipi 1:16, rasul Paulus menulis dari penjara, “aku ada di sini untuk membela Injil”. Beberapa tahun kemudian, rasul Petrus menulis kepada saudara-saudara seiman dalam Kristus di Asia Kecil pada saat iman mereka diperhadapkan pada tantangan dan cobaan yang hebat, “…siap sedialah pada segala waktu untuk memberi pertanggungan jawab kepada tiap-tiap orang yang meminta pertanggungan jawab dari kamu tentang pengharapan yang ada padamu, tetapi haruslah dengan lemah lembut dan hormat,…” (1 Petrus 3:15). Kata yang diterjemahkan sebagai “membela” dan “pertanggungan jawab” adalah apologia (Yun.) F.F. Bruce menganalisa bahwa hakekat dari apologia ini adalah pembelaan terhadap Injil, atau dikenal juga sebagai kesaksian Kristen.[19] James Sire sependapat dengan pemahaman ini, dengan menegaskan bahwa, “The moment the church was born, apologetics was born with it.” / “pada titik saat gereja dilahirkan, apologetika juga dilahirkan bersamanya.”[20] Sejarah Gereja mengungkapkan bagaimana para pendahulu iman kita berjuang untuk menunjukkan, membuktikan dan menghadirkan keKristenan sebagai sebuah karya Allah, dan bukan sebuah hasil pola pikir dan rumusan beberapa pendirinya. Sambil mengeluhkan kecenderungan apologetika Kristen masa kini yang memiliki kecenderungan berpusat pada apologetika itu sendiri, Sire menganjurkan (dan, secara efektif, membuktikan!) perlunya melihat dan mendefinisikan apologetika Kristen bukan sekedar olah pikir logika berdebat, melainkan perlu mempertimbangkan berbagai faktor dan relasi yang terkait dengan ragam dan bentuk apologetika yang dibutuhkan.[21] Bagi Sire, “Christian apologetics lays before the watching world such a winsome embodiment of the Christian faith that for any and all who are willing to observe there will be an intellectually and emotionally credible witness to its fundamental truth” / “Apologetika Kristen menguraikan di hadapan dunia yang sedang menyaksikan suatu perwujudan yang menawan dari iman Kristen, bahwa untuk setiap dan semua orang yang bersedia untuk mengamati akan ada kesaksian yang meyakinkan baik secara intelektual maupun emosional akan kebenaran-kebenaran dasar (dari iman).”[22] Penggalian secara biblika akan membantu kita mendapati bahwa apologetika Kristen adalah berbagai bentuk dan model kesaksian iman yang dipaparkan sebagai:[23]

  1. Respon terhadap penganiayaan – baik fisik maupun rohani (konteks surat 1 Petrus, sebagaimana nyata dalam 1 Petrus 1:6-7; 3:13-18; 4:12-19; 5:9)
  2. Penjelasan dan Pemberitaan Injil (Kisah Rasul 2:1-42)
  3. Pemaparan Kebenaran secara keilmuan (Kisah Rasul 17:1-9)
  4. Konfrontasi dengan penolak kebenaran (Kisah Rasul 17:16-34)
  5. Kesaksian Kerohanian secara rendah hati (1 Korintus 2:1-5)
  6. Keterlibatan secara pribadi dalam kegiatan rohani (1 Korintus 9:19-23)
  7. Upaya untuk memperbaiki kesalahan dan meluruskan kelakuan (2 Korintus 10:1-6; Yudas 3) – termasuk penganjur legalisme (surat Galatia), Asketis Gnosticisme (surat Kolose), Antinomian Gnosticisme (Yudas), Docetisme (1 Yohanes)
  8. Pemaparan Yesus Kristus sebagai Allah (Yohanes 20:30)

Keberhasilan dari semua tindakan apologetika Kristen tidak diarahkan kepada bertobatnya si pendengar, tetapi apakah tindakan-tindakan apologetis tersebut sudah setia dengan kebenaran utuh dari Injil Yesus Kristus. Semua pemaparan, baik pelaku maupun pokok-pokok kesaksian, perlu hidup dalam kesepadanan dengan kebenaran Injil Kristus. Oleh karena itu, apologetika Kristen harus dihidupkan bukan sebagai olah-otak, tapi juga keseluruhan kehidupan kerohanian yang diarahkan dan didasarkan kepada kebenaran Kristus. Inilah yang dimaksudkan oleh rasul Paulus sebagai ibadah rohani yang benar dalam Roma 12:2.

 

Suatu Kesimpulan: Seruan untuk Hidup dan Bersikap Taat kepada Kebenaran

Menurut John Bunyan dalam karya alegorisnya yang terkenal the Pilgrim’s Progress (Perjalanan Seorang Musafir), kehidupan orang percaya adalah satu perjalanan. Perjalanan ini dimulai ketika Roh Kudus menanamkan kelahiran baru di dalam hidup kita. Kehidupan kita menuju ke satu tujuan: persekutuan yang abadi dan indah bersama dengan Tuhan Allah yang hidup, yang sudah menyelamatkan kita dalam Kristus Yesus dan memperbarui kehidupan kita oleh Roh Kudus. Stott menegaskan bahwa sebagai orang Kristen, hidup kita tidak dapat dilepaskan dari sejarah dan tujuan kita.[24] Kita dipanggil untuk mengamati hidup ini dengan teliti dan cermat, menganalisanya, dan kemudian menentukan dan memutuskan satu cara dan gaya hidup yang memuliakan Allah, yang menjadi tujuan penciptaan kita.[25] Bagaimana kita bisa melakukannya?

Tokoh apologetika Kristen yang terkenal, Paul E. Little, memberikan beberapa tips yang sederhana:[26]

  1. Kita harus Bersikap Realistik

Kita harus bersikap realistik. Itu adalah kunci yang pertama dan yang utama. Waktu di jaman kita bergerak lebih cepat daripada di masa lampau. Penemuan-penemuan yang terjadi di sekitar kita jauh sangat banyak dan cepat. Jarak antar-negara tidak lagi menjadi sesuatu yang “ditakuti,” karena dunia komunikasi dan transportasi sudah sedemikian canggih. Namun pertanyaannya: hendak ke mana semua ini? Apa yang akan terjadi ketika kita meninggal? Perkembangan dunia saat ini justru seolah-olah hanya mengisi waktu hidup di dunia ini. “Manusia tidak lagi membutuhkan keselamatan.” Benarkah pernyataan ini? Ternyata tidak! Karena dunia kita hari ini ditandai dengan keputusasaan dan kehilangan. Berapa banyak korban dari perang yang bergaung di seluruh dunia hari ini? Berapa banyak keluarga yang akan kehilangan keluarganya sebagai akibat dari Narkoba? Berapa banyak lagi manusia yang akan terlindas oleh jaman dan menjadi pengguna hal-hal yang negatif? Sesaat sebelum meninggal, Dr. Karl Gustav Jung mengatakan, “Neurosis yang paling penting saat ini adalah kekosongan.” Satu analisa yang benar-benar jitu, dan ilmu pengetahuan tidak dapat menjawabnya. Dunia ini membutuhkan sesuatu yang real, yang nyata, yang dapat mengisi kekosongan ini. dunia ini sudah begitu muak dengan banyaknya barang-barang imitasi, termasuk mereka yang menyebut dirinya Kristen, namun sesungguhnya Kristen Imitasi. Kemunafikan, yakni: bentuk Kristen Imitasi, adalah satu kekosongan yang merupakan bentuk nyata dari pengaruh dunia ini di dalam hidup iman kita.

  1. KeKristenan itu Realistis

Berbeda dengan dunia ini, ternyata keKristenan bersifat realistis. Menjadi Kristen tidak berarti bahwa kita tidak boleh bersentuhan dengan dunia ini dengan segala benda-benda yang di dalamnya; namun, lebih dari itu, menjadi Kristen berarti: kita bertanggung jawab atas kehidupan ini dan menyadari tanggung jawab di dalam dunia rohani kita nantinya. Dunia menyerukan pertanyaan-pertanyaan dasar tentang hidup: “Darimana aku berasal? Mengapa aku ada di sini? Ke mana aku akan pergi? Apakah arti dan makna dari hidup di dunia ini?” KeKristenan Alkitabiah adalah keKristenan yang dibangun atas dasar worldview yang utuh, yang dibangun dari penyataan Allah Sang Pencipta dan Penguasa dunia ini (Kej 1:1; bd. Yes 40:28; 42:5; 45:18; Mr 13:19; Ef 3:9; Kol 1:16; Ibr 1:2; Wahy 10:6). Pola pikir Kristiani adalah pola pikir yang diubah dan disesuaikan dengan kebenaran Allah dalam diri Kristus Yesus. Satu hal yang ditampilkan Kristus adalah: Dia mengerti kebutuhan dunia ini. Dunia ini sudah kehilangan indahnya iman, kehangatan kasih dan kekuatan pengharapan. Hal inilah yang menyebabkan dunia ini tidak dapat lagi bersukacita. Adalah Allah di dalam Kristus Yesus yang sudah memberikan ketiga hal ini, dan memanggil kita orang-orang percaya untuk menyampaikan kabar baik ini: Allah itu peduli kepada dunia!

  1. Apa yang Kita, KeKristenan, Tawarkan kepada Dunia?

KeKristenan menawarkan suatu realita. Ketika kita berhadapan dengan dunia, maka kita harus menggunakan segenap akal budi dan kemampuan kita untuk hidup di dunia ini di dalam ketaatan kepada Allah. Di luar Allah kita tidak dapat berbuat apa-apa (Yohanes 15:5). Dunia ini harus diingatkan kembali bahwa hidupnya adalah anugerah dari Allah, dan bahwa cara kita menjalani kehidupan ini akan lebih menyenangkan jikalau kita menyerahkan kendalinya kepada Allah. Dosa telah membuat manusia tidak menyadari kelemahan dan kematiannya. Oleh karena itu, marilah kita berhenti bersikap sombong dan congkak. Marilah kita melihat kepada fakta ketidakberdayaan kita, dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada Allah. Kita mengakui Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat kita, yang mengatur dan memimpin hidup kita. Setelah itu, kita belajar untuk melihat kehidupan ini dengan menyadari bahwa Tuhan tidak pernah absen dari setiap detailnya, dan bahwa Allah “sedang merenda suatu karya yang agung mulia,” yaitu kehidupan seperti di Taman Eden yang pertama, dimana manusia hidup dalam persekutuan yang indah dengan Allah. Ketika kita menyerahkan kehidupan kita kepada Allah, maka pada saat yang sama kita juga siap untuk dibentuk oleh Allah sendiri, dan diarahkan sesuai dengan kemauan dan kerelaan kehendak-Nya, sehingga pada akhirnya, segala kemuliaan dapat kembali kepada Allah Tritunggal. Segala pujian kiranya bagi Allah semata!

[1] Semua terjemahan Alkitab Bahasa Indonesia diambil dari Alkitab Terjemahan Baru © LAI, 1974.

[2] Max Zerwick and Mary Grosvernor, Grammatical Analysis of the Greek New Testament (Unabridged, 5th rev. ed.) (Roma: Editrice Pontificio Istituto Biblico, 1996), 588.

[3] William Dyrness, Tema-tema dalam Teologi Perjanjian Lama (Malang: Gandum Mas, 1993), 171

[4] John Dettoni, “Life Stages” dalam Robert Banks and R. Paul Stevens, The Complete Book of Everyday Christianity (Downer Groove, Illinois: InterVarsity Press, 1998), 584

[5] Baca, misalnya, uraian Yakub Susada, Pengantar ke dalam Teologi Reformed (Surabaya: Lembaga Reformed Injili Indonesia, 1994), 8-9.

[6] Graeme Goldsworthy, Gospel and Wisdom (in Biblical Classics Library Series) (Carlisle: Paternoster Press, 1995), 15

[7] Kata yang digunakan adalah metanoia yang berarti ‘perubahan pikiran.’

[8] Perhatikan, misalnya, Roma 8:9; Efesus 1:13, 4:30. Perhatikan pembahasan secara terperinci oleh Leon Morris dalam Spirit of the Living God (Bedford Square, London: Inter-Varsity Press, 1959), khususnya Bab IV dan VI.

[9] Bedakan dengan proses regresif yang berarti terus menerus mundur.

[10] Roma 8:29.

[11] Goldsworthy, 15.

[12] John Stott, The Contemporary Christian (Leicester, UK: InterVarsity Press, 1995), 11.

[13] Charles Colson and Nancy Pearcey, How Now Shall We Live? (Wheaton, Illinois: Tyndale House Publishers, 1999), 20.

[14] Brian Walsh and J. Richard Middleton, The Transforming Vision: Shaping a Christian World View (Downer Grove, Illinois: InterVarsity Press, 1996), 95

[15] Francis Schaeffer, How Should We Then Live? (Westchester, Illinois: Crossway, 1983).

[16] Mementingkan benda/harta sebagai standard nilainya. Keuntungan adalah tujuan dari setiap tindakan.

[17] Manusia adalah pusat dari alam semesta, dan segala sesuatu harus tunduk kepada manusia. Manusia dipanggil untuk mengupayakan kesejahteraan bersama sebagai manusia.

[18] Kenikmatan dan kesenangan adalah cara terbaik untuk hidup di dunia ini.

[19] F.F. Bruce, First-century Faith (Leicester, England: Inter-Varsity Press, 1977), vii. Bruce juga menyimpulkan bahwa abad kedua masehi merupakan masa pembentukan apologetika Kristen yang terus bergerak secara dinamis dan progresif sesuai dengan pergumulan dan gugatan terhadap iman Kristen yang saat itu masih relatif muda dan baru.

[20] James W. Sire, A Little Primer on Humble Apologetics (Downers Groove, Illinois: IVP Books, 2006), 9.

[21] Sire, ibid., 14-16.

[22] Sire, ibid., 26.

[23] Sire, A Little Primer on Humble Apologetics, 14-25; lihat juga Bruce, First-century Faith, 14-103.

[24] Dengan demikian Stott menolak konsep dualisme pemikiran modern. Lihat Stott, 11.

[25] Yesaya 43:7, Roma 11:36, Efesus 2:10.

[26] Paul E. Little, How to Give Away Your Faith (London: InterVarsity Press, 1974), 9-23. Saya hanya mengambil subjudul-subjudul dari Paul Little.

[1] Assistant Minister for Cross Cultural Ministry of Hawthorn Presbyterian Church, Hawthorn – Melbourne (Australia), Presbyterian Chaplain for Swinburne University. Saat ini juga melayani sebagai Gembala dan Pengkhotbah (Preaching-Pastor) di Kebaktian Bahasa Indonesia Hawthorn Presbyterian Church.