Perginya Sang Pembela Iman

Editorial_Obituari -Stanley Heath_Stanley HeathKetika foto spanduk yang berjudul Pergi Tak Niat Kembali yang dipasang saat kebaktian tutup peti Prof. Dr. Warren Stanley Heath di-upload pada suatu status di Facebook, ada suatu komentar menarik dari Pdt. Ignatius Bagoes Seta dari Hawthorn Presbysterian Church Australia , “Owh, Indonesia kehilangan pemikir dan teladan dedikasi iman dan dedikasi ilmu yang sejati.”

Apa yang diungkapkan Pdt. Ignatius Bagoes Seta bukanlah suatu statement yang berlebihan, karena kenyataan itulah yang dimiliki oleh Prof. W.S. Heath. Beliau telah mempertaruhkan dirinya sepanjang hidupnya bagi perkembangan apologetika dan penginjilan di Indonesia supaya banyak jiwa pada bangsa ini diselamatkan.

Warren Stanley Heath dilahirkan 10 Februari 1925, di Amber New York, memiliki gelar PhD, dalam Teknik Kimia dari Universitas Kentucky, yang memungkinkannya menjadikan Professor part time di sekolah tersebut. Setelah bertobat, Warren Stanley Heath belajar teologi di Asbury Theological Seminary, sampai mendapatkan gelar Master of Divinity dalam bidang teologi.

Dedikasi iman yang luar biasa dari Prof. Heath tak bisa diragukan lagi. Hal ini ditunjukkan dengan sikapnya yang meninggalkan profesinya sebagai insinyur kimia di Allied Chemical and Day, maupun sebagai Professor di Universitas Kentucky untuk datang ke Indonesia melalui program Government to Government USAID (United State for International Development).

Kehidupan sebagai seorang pemikir tercermin dari banyaknya buku yang beliau baca. Tak terhitung berapa buku yang dibacanya yang meiliputi hampir setiap bidang ilmu. Khusus mangenai bidang apologetika, Purnawan Tenibemas Ph.D, ex mahasiswa pertama pada Institut Alkitab Tiranus, dalam tulisannya pada buku kenangan 80 tahun Prof. W. S. Heath, menulis ”…banyak sekali buku yang beliau baca berkaitan dengan bidang apologetika……. Karya Francis Schaeffer, filsuf Kristen tahun 70-an, menjadi bahan kajian di Institut Alkitab Tiranus yang di pimpin langsung oleh Professor Heath, ……… Hal ini membuat IAT (bagi kalangan tertentu) dikenal baik sebagai tempat untuk mempelajari pemikiran Schaeffer. Penulis ingat ketika mau membuka Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan, beliau mengatakan kalau membaca 80 buku. Bahkan sempat mau kuliah di Jurusan Psikologi Universitas Maranatha, tetapi jurusannya mengatakan nggak usah kuliah, mengajar saja. Sampai akhirnya beliau mengajar di Jurusan Psikologi pada Universitas tersebut.

Namun kerelaan hatinya untuk dipakai Tuhan adalah karena beliau selalu memikirkan bagaimana jiwa-jiwa khususnya di Indonesia diselamatkan. Keyakinannya tentang kebenaran Injil telah menggerakkan hatinya untuk melangkahkan kakinya ke Indonesia, bersama belahan hatinya Adelaide Fleischer Johnson Heath. Bahkan buku yang merupakan tulisan pertama beliau adalah Penginjilan dan Pelayanan Pribadi yang diterbitkan oleh YAKIN Surabaya. Buku ini merupakan penuntun seseorang menginjili tahap demi tahap secara sederhana dan dapat dipakai oleh siapa yang terbeban untuk menginjili orang lain. Buku lainnya tentang penginjilan adalah Tak Mengambang Tak Meleset. Buku ini mengantar pembacanya untuk melihat pengertian pengorbanan Yesus di kayu salib sebagai jalan tanpa alternatif untuk memperoleh keselamatan. Sehingga bila seorang percaya pada Yesus maka tak mengambang tak meleset. Buku yang enak dibaca bagi siapapun yang menginginkan dan mengerti jalan keselamatan.

Prof. W.S. Heath memang merupakan sosok pemikir dan teladan ilmu yang sejati. Tetapi ceramah-ceramah yang diberikan di hampir seluruh tempat di Indonesia, beliau lebih dikenal pemikiran-pemikirannya dalam bidang Apologetika, serta tentang iman dan ilmu pengetahuan. Prof. Heath sempat menjadi icon pada kedua bidang tersebut di Indonesia. Banyak orang ingin belajar di Tiranus karena ingin belajar dari pemiikiran Prof. Heath. Berkat teladan dirinya, tidak sedikit para sarjana di semua bidang, untuk belajar teologi baik dalam kampus maupun di luar kampus. Beberapa diantaranya adalah mantan para mahasiswa beliau di ITB.

Sayang buku-buku apologetika yang diterbitkan tidak begitu banyak, meski tulisan dan karya beliau begitu banyak. Dua buku beliau yang diterbitkan oleh Yayasan Andi adalah Sains Iman dan Teknologi yang menganalisa ilmu pengetahuan dari sudut pandang filsafat, teologi dan sejarah. Buku yang lain adalah Tafsir Kitab Kejadian pasal 1-11. Buku ini lahir dari pemikiran bahwa Kitab Kejadian tidak mendapat tempat yang layak dalam pemberitaan di mimbar maupun pengajaran dalam gereja. Padahal berita Injil hanya dapat dimengerti berdasarkan penciptaan manusia sebagai makhluk kudus yang kemudian jatuh dalam dosa. Satu-satunya penjelasan tersebut hanya di dalam Kitab Kejadian.

Namun perjalanan jaman ini telah mengalami erosi yang sangat tajam di mana hal ini juga dialami gereja dan umat Kristen, di mana kekristenan saat telah mengalami perlemahan nilai-nilai yang hakiki. Edmund Chan, salah satu pengkhotbah eksposisi yang paling dicari di Asia, dalam bukunya A Certain Kind, mengatakan bahwa terdapat lima cirri ketiadaan dasar teologi, salah satunya adalah melemahnya doktrin kekristenan, dimana hal ini ditandai dengan diabaikannya apologetika dan pembahasan yang mendalam tentang doktrin Kristen. Hal ini yang mungkin mengakibatkan banyak mimbar masa kini telah menggantikan eksposisi Alkitab dengan nasihat alkitabiah, pemahaman jemaat akan Firman Allah menjadi dangkal.

Penulis ketika mengunjungi ProF. Heath beberapa saat setelah ulang tahunnya yang ke 80 melihat bagaimana pendiri Institut Alkitab Tiranus ,mantan rektor serta mantan Dekan Pasca Sarjana yang telah membuka 6 jurusan di sekolah yang didirikannya itu terlihat muram sedih, terpadu dengan kekecewaan seolah menatap ke depan dengan ketidakberdayaan karena tertelan usia. Beliau mengatakan pada penulis bahwa beliau kecewa dengan semakin menghilangnya juru anapologetika. Padahal, tambah beliau, IAT didirikan untuk tujuan itu.

Memang tanpa beliau, Institut Alkitab Tirabus tidak mungkin ada. Kini Prof. Dr. Warren Stanley Heath telah pergi meninggalkan kita semua, akankah apologetika juga akan pergi? Jawabnya tentu tergantung seberapa besar generasi yang ditinggalkan, yang dididik dapat memberikan dedikasi, kesetiaan, serta pemikiran, hidup dan hatinya kepada Tuhan, sebagaimana keteladanan beliau.

Apapun yang terjadi, Prof. Dr. W.S. Heath, telah mengakhiri perjalanan hidup pelayananya sebagai hamba-Nya, dengan dedikasi iman dan kesetiaan, sebagaimana diungkapkan oleh Paulus :

Mengenai diriku, darahku sudah mulai dicurahkan sebagai persembahan dan saat kematianku sudah dekat. Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman. Sekarang telah tersedia bagiku mahkota kebenaran yang akan dikaruniakan kepadaku oleh Tuhan, Hakim yang adil, padahari-Nya; tetapi bukan hanya kepadaku, melainkan juga kepada semua orang yang merindukan kedatangan-Nya II Timotius 4:6-8

Selamat Jalan Professor see you